Struktur Situs Kumitir Banyak yang Rusak Akibat Penggalian dari Tahun 1780 - Line News Today

Rabu, 19 Agustus 2020

Struktur Situs Kumitir Banyak yang Rusak Akibat Penggalian dari Tahun 1780

Struktur Situs Kumitir di Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. 
Line News Today(Mojokerto): Selain menemukan talud di sisi timur, utara dan barat, juga runtuhan bangunan diduga pintu gerbang di sisi barat dan terdapat struktur bangunan di bagian tengah, ternyata proses Penggalian Batu dan Bata di Situs Kumitir Mojokerto sudah terjadi sejak 1780.

Selama dua minggu proses ekskavasi yang dilakukan Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur di Situs Kumitir Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Dari 400x300 meter2 luas keseluruhan, tahun ini ekskavasi ditarget 30 persen atau seluas kurang lebih 2.000 meter2. 


"Di sisi timur, utara dan barat ditemukan sehingga tinggal melanjutkan dengan perkiraan luas keseluruhan seluas 400x300 meter2. Temuan lainnya, ditemukan runtuhan bangunan yang kemungkinan besar diduga pintu gerbang di sisi barat. Di bagian tengah diduga sebagai tempat atau bangunan," ungkapnya, Selasa kemarin.(18/8/2020).


Yakni berupa struktur yang saling terhubung di sektor A, sektor B dan sektor C. Dari lokasi terlihat ada bangunan yang saling tumpang tindih mungkin berbeda masa. Bangunan yang lama mungkin runtuh dan ada bangunan lain pada masa berikutnya yang menggunakan bahan yang lama disusun ulang. 

"Temuan tersebut ada di sektor A, B dan C dan juga ada di talud sebelah timur. Di samping talud yang memanjang utara selatan, ada juga yang melintang membujur timur barat. Ini yang harus dianalisa lebih lanjut untuk menyikap temuan apa yang ada di area itu," katanya. 

Pengamatan sementara tentang batu-baru andesit, lanjut Andi, kelihatannya pengerjaannya sangat kasar. Ada yang mengarah bentuk artefit, ada yang mengarah ke kala, ada lagi yang seperti pipi tangga. Tapi semua itu masih kasar, jadi belum halus. Kemungkinan dugaan sementara belum selesai. 

"Diperkirakan bangunan tersebut belum selesai. Bisa ada masa politik atau ada lingkungan yang bermasalah. Seperti terjadi banjir, erupsi gunung api terjadi pada masa itu, ini yang belum bisa dijawab karena ekskavasi masih dua minggu ke depan. Akan terus kita gali karena sebaran baru andesit itu banyak sekali," ujarnya.

Ada di beberapa tempat, persawahan ada, termasuk ada arca juga yang belum selesai yang sekarang jadi punden. Kalau kondisi yang dilakukan penggalian saat ini belum mencapai 20 persen, diperkirakan target tahun ini baru 30 persen dari keseluruhannya, kurang lebih 2.000 meter2. 



"Dengan kondisi temuan yang baru dua minggu ini, kami belum berani menyimpulkan apa-apa. Hanya memang ada beberapa bagian yang betul-betul hancur namun di atas kertas masih bisa direkonstruksi. Jadi kami masih optimistis untuk menggali dua minggu ke depan lagi, mudah-mudahan kita akan menemukan fakta yang lebih jelas lagi," lanjutnya. 

Seandainya tidak ada Covid-19, lanjut Andi, tim turun lengkap dengan melibatkan enam universitas dan tenaga banyak, terget lebih besar. Saat ini, hanya satu universitas yang terlihat hanya merekam data sehingga belum maksimal. Andi mengakui banyak yang rusak karena aktivitas penggalian batu dan bata sudah terjadi sejak tahun 1780 an hingga sekarang. 

"Talud barat banyak yang rusak. Ini memang lahan garapan masyarakat untuk membuat linggan, jadi itu pasti banyak yang rusak. Bisa dilihat dari permukaan tanah sekitar Situs Kumitir sudah turun hingga tiga meter ke bawah. Artinya, sudah banyak bata yang hilang," ujarnya. 

Berdasarkan catatan Belanda, pada akhir tahun 1780 penggalian bata dan batu di Trowulan sudah banyak dilakukan hampir tiap hari dilakukan oleh masyarakat. Itu diambil untuk bantalan rel kereta atau batanya diambil untuk semen merah, itu terjadi sejak abad 17 dan sampai sekarang. 
"Sehingga wajar kalau banyak yang rusak dan hilang," pungkasnya.*(Ning).

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda