Pandemi Covid-19, Penyanyi Dangdut di Mojokerto Sukses Bisnis Sandal dan Sepatu - Line News Today

Sabtu, 24 Oktober 2020

Pandemi Covid-19, Penyanyi Dangdut di Mojokerto Sukses Bisnis Sandal dan Sepatu

Inka Ceples cek packing sandal dan sepatu

LN News Today (Mojokerto) – Imbas pandemi Covid-19 dirasakan masyarakat di berbagai  sektor. Inka Ceples, penyanyi dangdut asal Mojokerto ini memilih beralih menekuni bisnis berjualan sandal dan sepatu online karena job nyanyi selama pandemi Covid-19 sepi.

Bisnis online yang ditekuninya sejak November 2019 ini justru makin berkembang pesat saat pandemi Covid-19 mulai melanda. Lebih-lebih, saat bulan Ramadhan lalu, Inka Ceples mampu meraup keuntungan Rp 30 juta per hari.

Sebelum pandemi, penyanyi dangdut berusia 31 tahun asal Desa Brangkal, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto ini memiliki jadwal manggung yang padat. Namun, saat pandemi ini job manggungnya mulai sepi.

“Sebelum pandemi, sehari bisa 3 sampai 4 kali manggung, kalau pas Sabtu-Minggu, bisa sampai 7 kali manggung. Paling jauh saya sampai Gresik. Pandemi ini tidak ada job sama sekali, karena kan hiburan masih dilarang.” katanya.

Job manggungnya yang sepi ini kemudian mendorong Inka Ceples untuk mengembangkan usaha suaminya, Ali Muhajir (36) yang sudah lama konsentrasi di bidang pengrajin sepatu dan sandal.

"Awalnya, saya supplier untuk 4 orang teman yang jualan online sandal dan sepatu 3 tahun lalu. Satu teman saya itu sukses, sampai bisa beli mobil. Tahun ketiga, November 2019 saya jual sandal sampai puasa kemarin," katanya Muhajir.

Proses packing sandal dan sepatu

Di awal bulan puasa, customer yang orde di tempatnya setiap hari antara 300 sampai 400 pasang. Namun di minggu kedua puasa, permintaan melonjak hingga 2.000 sampai 3.000 pasang tiap hari. Dalam sehari ia mampu meraup keuntungan hingga Rp30 juta.

"Ramainya ya pas bulan puasa kemarin itu, awal corona bulan Maret laku hanya 100 kodi tiap hari. Saya supplier tapi saya juga pengrajin. Ada 10 lebih karyawan yang membantu saya, untuk pengerjaan sepatu dan sandal ada di rumah Karang Kedawang. Pandemi tidak ada pengaruh bagi saya," jelasnya.

Muhajir menjelaskan, ia merupakan warga Desa Karang Kedawang, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Sementara sang istri merupakan warga Desa Brangkal, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Keduanya menikah karena sama-sama terjun di dunia hiburan.

"Saya kan dulu pemain keyboard, istri saya penyanyi dangdut. Selama hampir 15 tahun saya ikut di acara salah satu TV lokal Jawa Timur. Untuk usaha sandal dan sepatu ini, kan di desa saya mayoritas pengrajin sandal dan sepatu. Meski bapak bukan pengrajin sepatu dan sandal tapi saya bisa buat sepatu dan sandal," terangnya.

Muhajir  menjelaskan, sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia sudah membantu tetangganya membuat sandal dan sepatu. Dari situ, sekitar lima tahun lalu atau setelah menikah dengan sang istri, ia memilih mendirikan usaha pembuatan sandal dan sepatu.

Proses packing sandal dan sepatu

Sebelumnya, Muhajir juga sempat membangun usaha di bidang rongsokan (barang bekas, red). Namun nampaknya usaha tersebut tidak membuahkan hasil, sehingga dia beralih menjadi pengrajin sandal dan sepatu.

"Saya pernah usaha rongsokan (bahan bekas, red), bangkrut. Usaha ini juga pernah bangkrut, sepatu kulit saat itu rugi karena persaingan harga. Supplier ke toko juga rugi, akhirnya ikut teman yakni supplier ke teman yang jualan online. Rumah yang di Karang Kedawang sebagai tempat pembuatan sandal dan sepatu," paparnya.

Sementara sandal dan sepatu yang sudah jadi dan siap dikemas dibawa ke rumahnya di Desa Brangkal. Di bantu dua saudaranya, ia melayani customer secara online yang memesan sandal dan sepatu buatannya. Pesanan menjangkau hingga pelosok nusantara, ini karena dilakukan secara online.

"Melayani online baru puasa 2020 kemarin, sebelumnya hanya supplier. Tapi memang untuk online, kita harus ready stok. Kita melayani penjualan eceran, bisa beli banyak nanti ada potongan harga. Kalau disini harga mulai dari Rp45 ribu sampai Rp120 ribu," jelasnya.

Muhajir menambahkan, dari berbeda jenis sepatu dan sandal yang dibuat, sandal gunung yang masih diminati. Meski model dan tahun ke tahun sama, namun customer masih banyak yang mencari. Selain sandal gunung, juga ada sepatu sport, sepatu boat, sandal flip flop.

"Permintaan satu hari kurang lebih 100 pasang. Pas event di online, pasti ramai. Tidak pernah sampai tidak ada pesanan, sepi itu 70 pasang sehari. Memang khusus sandal dan sepatu cowok karena sandal dan sepatu cewek itu dua sampai tiga bulan sudah harus ganti motif,” pungkasnya. (Ning/Jne)

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda